Bogor.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran menilai langkah Pemerintah Kota Bogor yang menjadikan Kecamatan Tanah Sareal sebagai mesin pertumbuhan baru merupakan contoh konkret pembangunan kawasan yang selaras dengan agenda besar penguatan aglomerasi Jabodetabekjur.
Inisiatif tersebut dipandang mampu memperkuat konektivitas ekonomi, sosial, dan infrastruktur antarwilayah penyangga ibu kota secara lebih berimbang dan berkelanjutan.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Apresiasi Rencana Pemprov Jakarta Bangun Transportasi Umum Ke Bandara Soekarno Hatta Dan Halim
Ketua Umum MARTABAT Prabowo–Gibran, KRT Tohom Purba, menyatakan bahwa pengembangan Tanah Sareal menunjukkan arah pembangunan daerah yang tidak lagi terfragmentasi, melainkan terintegrasi dalam kerangka regional.
“Tanah Sareal bukan hanya proyek lokal Kota Bogor, tetapi simpul strategis yang memperkuat denyut pertumbuhan Jabodetabekjur secara keseluruhan,” ujar Tohom, Rabu (21/1/2026).
Ia menilai fokus pada infrastruktur, layanan publik, dan penguatan ekonomi kawasan selama lima tahun ke depan mencerminkan visi jangka panjang yang sejalan dengan agenda pemerintahan Prabowo–Gibran dalam membangun pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jakarta.
Baca Juga:
Optimalisasi Energi untuk Daur Ulang Sampah Jakarta, MARTABAT Prabowo–Gibran: Memperkuat Daya Saing Aglomerasi Jabodetabekjur
“Ketika kota penyangga seperti Bogor membangun mesin pertumbuhannya sendiri, tekanan ke Jakarta berkurang, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih merata,” katanya.
Menurut Tohom, Tanah Sareal memiliki posisi strategis karena berada di jalur pergerakan manusia dan barang antara Jakarta dan wilayah Bogor Raya.
Oleh karena itu, pengembangan kawasan tersebut akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas regional.
“Inilah esensi aglomerasi yang sehat: konektivitas kuat, fungsi kawasan jelas, dan manfaat ekonomi dirasakan lintas wilayah,” ucapnya.
Tohom juga menyebutkan bahwa proyek-proyek seperti revitalisasi GOR Pajajaran, penataan ruang terbuka hijau, penguatan sistem pengelolaan limbah, hingga peningkatan akses jalan harus dibaca sebagai investasi sosial jangka panjang.
“Pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari beton dan aspal, tetapi dari kualitas hidup warga yang meningkat dan daya saing kawasan yang tumbuh,” tegasnya.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menilai pengembangan Tanah Sareal dapat menjadi model bagi daerah lain di Jabodetabekjur dalam mengelola pertumbuhan tanpa menciptakan ketimpangan baru.
“Tanah Sareal berpotensi menjadi role model simpul pertumbuhan yang terkelola baik, asalkan koordinasi lintas daerah dan lintas sektor dijaga secara konsisten,” katanya.
Ia mengingatkan pentingnya sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah agar pembangunan kawasan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Aglomerasi bukan soal siapa paling cepat membangun, tetapi siapa paling mampu menyelaraskan kebijakan demi kepentingan kawasan dan rakyat secara luas,” ujarnya.
MARTABAT Prabowo–Gibran, lanjut Tohom, mendorong agar keberhasilan Tanah Sareal nantinya menjadi pijakan bagi penguatan pusat-pusat pertumbuhan lain di Bogor dan kota penyangga lainnya.
“Ini sejalan dengan visi Prabowo–Gibran untuk membangun Indonesia dari kawasan, bukan dari satu titik saja,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]